Kembali ke Daftar KhutbahKhutbah Jumat

Cukuplah Islam Ala Rasulullah

Tim Redaksi Naskah Khutbah
28 Agu 2026
Bahasa Indonesia

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه، اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٣١ (اٰلِ عِمْرَانَ)

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Allah Swt. berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 102).

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sejak kapan Islam boleh diberi nama sesuai nama seorang penguasa? Pertanyaan ini mencuat setelah MUI dan Baznas meluncurkan buku Islam Ala Prabowo pada 26 Agustus 2025 dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional Baznas di Jakarta. Setahun kemudian, buku setebal 346 halaman itu ramai diperbincangkan dan diperdebatkan, terutama karena judulnya dinilai berlebihan dan membingungkan. Buku ini memuat kumpulan tulisan tentang sisi “keislaman” Presiden Prabowo Subianto, mulai dari kehidupan pribadi, karier militer hingga kepemimpinannya sebagai kepala negara. Ditulis oleh 21 tokoh agama, akademisi, diplomat, dan politisi, buku tersebut juga menuai persoalan karena beberapa tokoh yang namanya tercantum sebagai penulis mengaku tidak pernah menulis untuk buku itu.

Yang menjadi persoalan utama bukanlah siapa presidennya, siapa saja yang menulis, atau seberapa banyak tokoh agama yang terlibat. Masalahnya terletak pada kesan bahwa Islam dapat dilekatkan pada sosok penguasa hingga melahirkan sebuah “versi” Islam. Padahal, Islam bukan milik pribadi, bukan pula identitas yang berubah mengikuti siapa yang sedang memegang kekuasaan—apalagi dalam sistem negara sekuler. Karena itu, penggunaan nama seorang penguasa sebagai bagian dari identitas Islam patut dipertanyakan secara serius.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kalau Islam benar-benar sempurna, lalu siapa yang berhak menjadi ukuran Islam: wahyu atau manusia? Kita mengenal kepemimpinan istimewa Khalifah Umar bin al-Khaththab, jihad yang sangat heroik Shalahuddin al-Ayyubi atau penaklukan agung Muhammad al-Fatih. Namun, tidak pernah ada istilah “Islam ala Umar”, “Islam ala Shalahuddin”, atau “Islam ala Muhammad al-Fatih”. Sehebat apa pun keislaman seorang Muslim, termasuk pemimpin atau ulama, tetap tidak menjadikannya ukuran bagi Islam. Tolok ukur kebenaran adalah wahyu Allah Swt., yakni al-Quran dan as-Sunnah. Allah Swt. berfirman:

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku untuk kalian dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.” (QS. al-Mâidah [5]: 3). Karena itu, kesalahan seorang Muslim adalah penyimpangan dari Islam, bukan bagian dari ajaran Islam.

Islamlah yang menjadi standar untuk menilai penguasa, bukan penguasa yang menjadi standar untuk menentukan Islam. Islam tidak boleh dipersonifikasikan atau ditundukkan pada kepentingan penguasa. Setiap Muslim, termasuk rakyat, ulama, ilmuwan, maupun kepala negara, wajib tunduk kepada syariah dan tidak berwenang menentukan isinya. Bahkan ketaatan kepada ulil amri tetap berada di bawah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt. berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡر وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar mengimani Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisâ’ [4]: 59).

Islam tidak membutuhkan legitimasi dari figur mana pun. Sebaliknya, manusialah yang dinilai berdasarkan sejauh mana pikiran, ucapan, dan perbuatannya sesuai dengan Islam. Kebenaran Islam tidak bergantung pada kharisma atau kekuasaan seseorang, karena Islam adalah agama wahyu yang universal. Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِيْ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ

“Siapa saja yang menaati aku, sungguh ia telah menaati Allah. Siapa saja yang mendurhakai aku, sungguh ia telah mendurhakai Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, siapa pun kedudukannya, seorang Muslim wajib menjadikan Islam sebagai ukuran dalam berpikir dan bertindak, bukan menjadikan dirinya sebagai ukuran Islam.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Islam bukan ditentukan oleh siapa tokohnya, tetapi oleh siapa yang menjadi sumber kebenarannya. Islam bersumber dari wahyu Allah Swt., yakni al-Quran dan as-Sunnah, bukan dari penguasa, ulama, atau cendekiawan. Karena itu, Islam tidak boleh dinisbatkan kepada figur, apalagi dijadikan alat kepentingan politik. Kaum Muslim wajib menjadikan Rasulullah saw. sebagai teladan dalam berislam (QS. al-Ahzâb [33]: 21).

Allah juga berfirman:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Katakanlah, ‘Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Âli ’Imrân [3]: 31).

Dalam perspektif fiqih siyasah, pemimpin tertinggi (Imam atau Khalifah) pun wajib meneladani kepemimpinan Rasulullah saw. sebagai kepala negara di Madinah, dengan menjalankan syariah dan mewujudkan keadilan serta menjaga agama, jiwa, akal, harta, dan kehormatan masyarakat. Allah Swt. berfirman:

ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيْعَةٍ مِّنَ الْاَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Kemudian Kami menjadikan kamu berada di atas suatu syariah dari urusan (agama itu). Karena itu ikutilah syariah itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. al-Jâtsiyah [45]: 18).

Karena itu, Islam tidak cukup hanya dijadikan identitas pribadi, tetapi wajib diterapkan secara kaaffah dalam kehidupan sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin. Makna firman Allah Swt. dalam QS. al-Baqarah [2]: 208 adalah perintah kepada orang-orang beriman untuk menjalankan Islam secara menyeluruh dan tidak mengikuti langkah-langkah setan.

Jika kita benar-benar menginginkan kehidupan yang penuh keberkahan, jangan menjadikan manusia sebagai ukuran Islam dan jangan pula menundukkan Islam pada kepentingan kekuasaan. Kembalikan Islam kepada sumbernya: al-Quran dan as-Sunnah, lalu wujudkan ajarannya secara kaaffah dalam kehidupan. Sebab Allah Swt. telah menjanjikan:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. al-A’râf [7]: 96).

Maka, sudah saatnya kita menempatkan Islam di atas segala kepentingan manusia dan menjadikan syariah Allah sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Unduh Naskah (.doc)